Skip to content
  • Why Indonesia
  • Project Opportunities
    • Infrastructure
    • Energy
    • Special Economic Zone
    • Healthcare
    • Tourism
    • Industrial Estates
  • Services
    • Service
    • Our team
    • Letter of Reference
  • Procedure
    • Setting Up Company​
    • Taxation
    • Incentives
    • Foreign Company Representative Office
    • Legal Overview
  • Contact Us
  • Why Indonesia
  • Project Opportunities
    • Infrastructure
    • Energy
    • Special Economic Zone
    • Healthcare
    • Tourism
    • Industrial Estates
  • Services
    • Service
    • Our team
    • Letter of Reference
  • Procedure
    • Setting Up Company​
    • Taxation
    • Incentives
    • Foreign Company Representative Office
    • Legal Overview
  • Contact Us
Instagram Linkedin

Prabowo says Indonesia-France ties at highest level ever

Jakarta (ANTARA) – Indonesia-France bilateral relationship are currently at their highest level ever, Indonesian President Prabowo Subianto said during a joint press statement with French President Emmanuel Macron at the Elysee Palace in Paris on Thursday (May 28). “Your Excellency, Indonesia-France relationship are at what I believe to be their highest level ever,” Prabowo remarked as monitored from the Indonesian Presidential Secretariat’s YouTube channel. Prabowo noted the relationship is currently very strong and aligned on several positions at the international level. According to him, such condition is inseparable from President Macron’s direct support for Indonesia-France bilateral relationship. “In several respects, Indonesia and France share the same position and currently our bilateral relations are very good. This is none other than because of the direct support from President Macron,” Prabowo stated. In defense sector, he added, the connection between Indonesia and France is progressing very well. Cooperation in science and technology also continues to grow. Meanwhile, in education sector, Prabowo emphasised the Indonesian government seeks to enhance cooperation with France. Prabowo then said he had instructed schools in Indonesia to begin studying the French language. “I have instructed that all levels of schools in Indonesia must learn French, considering global development in the future,” he remarked. On the occasion, Prabowo also assessed that President Macron’s leadership in the international stage demonstrates a firm and consistent stance toward the principles upheld by the French Republic. Furthermore, the President expressed appreciation for the reception extended by the French Government to him and the Indonesian delegation during the visit to Paris. Prabowo noted that this year he had visited France three times. In addition, Indonesia was honored last year to be invited to participate in the French National Day Military Parade (Bastille Day) on July 14, 2025. Translator: Fathur, KenzuEditor: Fransiska NindityaCopyright © ANTARA 2026 https://en.antaranews.com/news/417241/prabowo-says-indonesia-france-ties-at-highest-level-ever

Read More »

KEK Industropolis Batang Raup Minat Investor Hungaria, Kantongi Dua MoU Energi Hijau

Eropa — Pemerintah Indonesia mempromosikan peluang investasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang kepada komunitas bisnis Hungaria melalui forum bisnis bertajuk Indonesia’s New Economic Frontier: Investing in Batang Integrated Estate and Health Special Economic Zone yang digelar di Budapest, Hungaria, Kamis (21/5).  Delegasi Indonesia dipimpin oleh Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang. Dalam sambutannya, Sekjen Edwin menyampaikan bahwa KEK Indonesia dikembangkan sebagai mesin utama transformasi ekonomi nasional melalui ekosistem industri terintegrasi, insentif investasi kompetitif, serta konektivitas strategis menuju kawasan Indo-Pasifik. “Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, kami mengundang dunia usaha internasional tidak hanya untuk menyaksikan transformasi Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan tersebut,” ujar Sekjen Edwin. Sekjen Edwin juga menegaskan bahwa Indonesia dan Hungaria memiliki potensi besar untuk membangun kemitraan strategis di sektor kesehatan, farmasi, sains, dan inovasi. Menurutnya, Hungaria dikenal sebagai salah satu pusat riset farmasi terkemuka di Eropa Tengah dan Timur, sementara Indonesia menawarkan skala pasar dan infrastruktur yang kompetitif untuk pengembangan investasi jangka panjang.  Dalam forum ini, Direktur Utama KEK Industropolis Batang, Agung Putu Ngurah Wirawan, memaparkan perkembangan signifikan KEK Industropolis Batang yang hingga saat ini telah mencatatkan total investasi sebesar USD1,3 miliar dan menyerap sekitar 11.000 tenaga kerja langsung. Ia juga menyampaikan tingginya minat investor terhadap kawasan tersebut tercermin dari peningkatan penjualan lahan yang jauh melampaui rata-rata kawasan industri nasional. “Pada 2024, penjualan lahan di KEK Industropolis Batang mencapai 104 hektare dan pada 2025 telah mencapai 97 hektare. Angka ini jauh di atas rata-rata penjualan kawasan industri pada umumnya yang hanya berkisar 15–20 hektare per tahun. Hal ini menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap potensi dan daya saing KEK Industropolis Batang,” ujar Agung.  Selain mempromosikan peluang investasi di KEK Industropolis Batang, pemerintah memperkenalkan sejumlah KEK sektor kesehatan kepada komunitas bisnis Hungaria, di antaranya KEK Sanur, KEK Pariwisata dan Kesehatan Internasional Batam, serta KEK Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional Banten melalui sesi forum dan one-on-one business meeting.  Dalam sesi business matching yang diwakili oleh Plt. Kepala Biro Investasi, Kerja Sama, dan Komunikasi, Bambang Wijanarko, sejumlah potensi kerja sama turut dibahas, antara lain pengembangan sektor manajemen air dan daur ulang air industri untuk mendukung kebutuhan kawasan di masa depan, peluang investasi properti dan fasilitas pendukung bagi pekerja di KEK Industropolis Batang, serta penjajakan skema pendanaan bersama antara pemerintah Hungaria dan Indonesia untuk mendukung proyek-proyek strategis. Pada forum tersebut juga dilakukan penandatanganan dua MoU business-to-business (B-to-B) antara PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) selaku Badan Usaha Pembangun dan Pengelola KEK Industropolis Batang dengan perusahaan asal Hungaria, yakni Merlion Tech Ltd dan Iconic Energi Kft. Kedua perusahaan bergerak di bidang energi terbarukan, efisiensi energi, dan keberlanjutan lingkungan. Sebelum forum berlangsung, delegasi Indonesia melakukan serangkaian pertemuan dengan Hungarian Export Promotion Agency (HEPA), Hungarian Chamber of Commerce and Industry (HCCI), dan Hungarian Water Partnership pada Rabu (20/5). Dalam pertemuan tersebut, Hungaria menunjukkan minat besar terhadap sektor pengelolaan air, energi hijau, teknologi digital, dan smart city. Bahkan, pihak HCCI mengusulkan agar KEK Industropolis Batang dijadikan pilot project teknologi pengolahan air Hungaria di Indonesia. Rangkaian promosi investasi ini berhasil memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia di Eropa Timur dan Tengah sekaligus membuka peluang investasi baru di sektor energi hijau, pengelolaan air, teknologi digital, dan manufaktur maju.  Sebagai tindak lanjut, Sekretariat Jenderal Dewan Nasional KEK bersama PT KITB dan kementerian/lembaga terkait akan mempercepat agenda business matching lanjutan, kunjungan investor ke Indonesia, serta pembahasan implementasi kerja sama investasi dan transfer teknologi.  Sekretariat Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus Plt. Kepala Biro Investasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Bambang Wijanarko

Read More »

Investasi Rp300 Miliar, JEC Groundbreaking Sentra Kesehatan Mata di KEK Sanur

Bisnis.com, DENPASAR – JEC Group melakukan groundbreaking pembangunan Rumah sakit mata JEC Eye Hospitals di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Kota Denpasar.  Klinik JEC Bali disiapkan menjadi sentra kesehatan rujukan yang berdiri di atas lahan berukuran 6.200 meter persegi dengan infrastruktur bangunan luas keseluruhan 12.000 meter persegi, terdiri dari 4 lantai  dan semi basement. JEC Bali ditargetkan rampung pada 2027, dan akan melayani 30.000 kunjungan pada tahun pertama operasionalnya.  Presiden Direktur JEC Group sekaligus Johan A. Hutauruk menjelaskan selain pasar lokal Bali, JEC BALI juga menyasar pasar domestik Indonesia, menengah ke atas dan komunitas ekspatriat, serta pasien dari mancanegara. Selain itu klinik tersebut akan menarik minat warga mancanegara untuk datang berobat ke Bali sambil berwisata. Bali yang sudah dikunjungi 7 juta wisatawan mancanegara setiap tahun menjadi pasar utama bagi wisata kesehatan.  Hutauruk juga menjelaskan pasar wisata kesehatan Indonesia mencapai US$1,7 miliar, diproyeksikan pada 2023 tumbuh hingga US$9,6 miliar. Menurutnya besarnya potensi tersebut harus dimanfaatkan dengan baik.  “Melalui konsep ‘Blue Hospital’ yang akan diimplementasikan, kami berharap pasien di JEC BALI tidak hanya mendapatkan kesembuhan medis, tetapi juga pengalaman ‘healing’ yang menyeluruh berkat dukungan sistem bangunan cerdas dan lingkungan yang ramah,” jelas Hutauruk kepada media, Sabtu (14/2/2026).  Daya tarik yang ditawarkan JEC yakni biaya pengobatan mata yang lebih murah dibandingkan negara lain seperti Singapura, Australia, Thailand. Dengan biaya yang lebih murah, pasien setelah sembuh bisa langsung berwisata di Bali, sehingga memberikan dampak bagi ekonomi lokal.  Gubernur Bali Wayan Koster menjelaskan mendukung investasi yang dilakukan JEC, karena akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi Bali.  “Jika ditotal dengan investasi JEC yang Rp300 miliar, total investasi di KEK Sanur bisa Rp2 triliun, ini akan berdampak langsung ke pertumbuhan ekonomi Bali,” kata Koster. Selain itu, JEC juga akan menambah kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik ke Bali.  Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Investasi Rp300 Miliar, JEC Groundbreaking Sentra Kesehatan Mata di KEK Sanur”, Klik selengkapnya di sini: https://bali.bisnis.com/read/20260214/538/1952957/investasi-rp300-miliar-jec-groundbreaking-sentra-kesehatan-mata-di-kek-sanur#goog_rewarded.Penulis : Harian Noris Saputra – Bisnis.com

Read More »

Pabrik Melamin Pertama RI Dibangun di KEK Gresik, Investasi Rp10,2 Triliun

Bisnis.com, JAKARTA — Pabrik melamin berkapasitas hingga 120.000 ton per tahun (TPA) resmi dibangun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik. Digadang-gadang menjadi yang pertama dan terbesar di Indonesia, proyek yang dikembangkan PT GEABH Joint Technology tersebut menelan investasi sekitar US$600 juta atau setara Rp10,2 triliun. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Dewan Nasional KEK, Airlangga Hartarto mengatakan, proyek ini menjadi bagian penting dari pengembangan kawasan industri di KEK Gresik serta memperkuat daya saing industri nasional. “Hal ini mencerminkan komitmen kuat kita dalam mempercepat hilirisasi industri dan menciptakan industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Bisnis, Kamis (9/4/2026).  Pabrik yang dikembangkan PT GEABH Joint Technology ini ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada kuartal II/2027. Fasilitas tersebut akan dibangun secara terintegrasi, mencakup pengolahan gas alam menjadi amonia, kemudian diproses menjadi urea hingga menghasilkan melamin sebagai produk akhir. Pada fase awal pembangunan, proyek ini akan difokuskan pada pengembangan unit produksi utama dengan kapasitas 800 ton per hari (TPD) amonia, 1.500 TPD urea, dan 200 TPD melamin. Tahapan konstruksi selanjutnya akan diarahkan pada penguatan infrastruktur pendukung serta optimalisasi rantai produksi. Pengembangan proyek ini disebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang menempatkan hilirisasi industri dan penguatan KEK sebagai prioritas utama. Adapun KEK Gresik ditetapkan sebagai salah satu KEK prioritas nasional yang berperan strategis dalam mendorong industrialisasi, peningkatan ekspor, dan pemerataan pembangunan wilayah.  Hingga 2025 kinerja KEK Nasional menunjukkan tren positif dengan realisasi investasi kumulatif mencapai Rp336 triliun dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 249.000 orang. Sepanjang tahun yang sama, KEK Gresik membukukan investasi Rp105,4 triliun atau sekitar 31% dari total investasi KEK nasional, dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 46.000 orang. Dari sisi regional, sektor manufaktur memberikan kontribusi sebesar 31,32% terhadap perekonomian Jawa Timur. Perkembangan kawasan industri juga berdampak pada penurunan tingkat pengangguran di Kabupaten Gresik dari 8% menjadi 5,47% dalam lima tahun terakhir. Airlangga menambahkan, sektor manufaktur tetap menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional. “Pada tahun 2025, sektor manufaktur berkontribusi sebesar 19,07% terhadap PDB Indonesia dan menjadi penggerak utama pertumbuhan di berbagai kawasan industri,” tutur Airlangga. Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Pabrik Melamin Pertama RI Dibangun di KEK Gresik, Investasi Rp10,2 Triliun”, Klik selengkapnya di sini: https://ekonomi.bisnis.com/read/20260409/257/1965283/pabrik-melamin-pertama-ri-dibangun-di-kek-gresik-investasi-rp102-triliun.Penulis : Desyinta Nuraini – Bisnis.com Download aplikasi Bisnis.com terbaru untuk akses lebih cepat dan nyaman di sini:Android: http://bit.ly/AppsBisniscomPSiOS: http://bit.ly/AppsBisniscomIOS

Read More »
« Previous Next »

About Us

  • Why Invest In Indonesia

Investment Guidebook

Download Here

Project Opportunities

  • Infrastructure
  • Energy
  • Healthcare​
  • Tourism
  • Special Economic Zone​
  • Industrial Estate

Procedure

  • Setting Up Company​
  • Taxation
  • Incentives
  • Foreign Company Representative Office
  • Legal Overview

Contact Info

  • Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC) London
  • Ministry of Investment of the Republic Indonesia - Investment Coordinating Board (BKPM)
  • +44 (0) 3440 3830
  • iipc.london@investinindonesia.uk
  • 18th Floor, Heron Tower, 110 Bishopsgate, London EC2N 4AY, United Kingdom
  • Why Indonesia
  • Project Opportunities
    • Infrastructure
    • Energy
    • Special Economic Zone
    • Healthcare
    • Tourism
    • Industrial Estates
  • Services
    • Service
    • Our team
    • Letter of Reference
  • Procedure
    • Setting Up Company​
    • Taxation
    • Incentives
    • Foreign Company Representative Office
    • Legal Overview
  • Contact Us
  1. Anambas
  2. Bandung
  3. Bangka
  4. Banyuwangi
  5. Bengkulu
  6. Blitar
  7. Blora
  8. Bogor
  9. Bonoi Tidal River Bore
  10. Bugam Raya
  11. Bulukumba
  12. Cianjur
  13. Donggala
  14. Garut
  15. Gresik
  16. Gunung Kidul
  17. Gunung Sitoli
  18. Jambi
  19. Kerinci
  20. Kulon Progo
  21. Magelang
  22. Malang
  23. Medana
  24. Merangin
  25. Mojokerto
  26. Muara Enim
  27. Nias Utara
  28. Pagar Alam
  29. Palembang
  30. Palu
  31. Pangandaran
  32. Pasuruan
  33. Pekanbaru
  34. Pesisir Selatan
  35. Pontianak
  36. Rembang
  37. Rote Island
  38. Rupat Island
  39. Sabang Weh Island
  40. Samosir
  41. Sanggau
  42. Saumlaki
  43. Selayar Island
  44. Selayar
  45. Semarang
  46. Serang
  47. Singkawang
  48. Sleman
  49. Sukabumi
  50. Sumenep
  51. Sungai Penuh
  52. Tasikmalaya
  53. Toba Samosir
  54. Trenggalek
  55. Wakatobi
  56. Wonogiri
  1. Wakatobi
  2. Tanjung Lesung
  3. Morotai
  4. Mandalika
  5. Labuan Bajo
  6. Kepulauan Seribu dan Kota Tua
  7. Bromo
  8. Borobudur
  9. Lake Toba
  10. Tanjung Kelayang